Stages of Friendship

 

find an old email from my inbox. and this is nice.

 

From: vinay sharma <vinayvedsharma@yahoo.co.in>
Subject: hi
To:
Date: Thursday, October 22, 2009, 6:34 PM

I loved this and so I am sending you as well because ……

In kindergarten your idea of a good friend was the person who let you have the red crayon when all that was left was the ugly black one.

In first grade your idea of a good friend was the person who went to the bathroom with you and held your hand as you walked through the scary halls.

In second grade your idea of a good friend was the person who helped you stand up to the class bully.

In third grade your idea of a good friend was the person who shared their lunch with you when you forgot yours on the bus.

In fourth grade your idea of a good friend was the person who was willing to switch square dancing partners in gym so you wouldn’t have to be stuck do-si-do-ing with the dork of the class.

In fifth grade your idea of a friend was the person who saved a seat on the back of the bus for you.

In sixth grade your idea of a friend was the person who went up to your new crush, and asked them to dance with you, so that if they said no you wouldn’t have to be embarrassed.

In seventh grade your idea of a friend was the person who let you copy the social studies homework from the night before that you had forgotten about.

In eighth grade your idea of a good friend was the person who helped you pack up your stuffed animals and old baseball cards so that your room would be a “high schooler’s” room, but didn’t laugh at you when you finished and broke out into tears.

In ninth grade your idea of a good friend was the person who went with you to that “cool” party thrown by a senior so you wouldn’t wind up being the only freshman there.

In tenth grade your idea of a good friend was the person who changed their schedule so you would have someone to sit with at lunch.

In eleventh grade your idea of a good friend was the person who
gave you rides in their new car,
convinced your parents that you shouldn’t be grounded,
consoled you when you broke up with your significant other
and found you a date to the prom.

In twelfth grade your idea of a good friend was the person who
helped you pick out a college,
assured you that you would get into that college,
helped you deal with your parents who were having a hard time adjusting to the idea of letting you go.

At graduation your idea of a good friend was the person who was crying on the inside but managed the biggest smile one could give as they congratulated you.

The summer after twelfth grade your idea of a good friend was the person who
Helped you clean up from that party.
Helped you sneak out of the house when you just couldn’t deal with your parents.
Assured you that now that your significant other were back together, you could make it through anything.
Helped you pack up for college and just silently hugged you as you looked through blurry eyes at 18 years of memories you were leaving behind.
And finally on those last days of childhood, went out of their way to come over and send you off with a hug, a lot of memories and reassurance that you would make it in college as well as you had these past 18 years.
But most importantly sent you off to college knowing you were loved.

Now, your idea of a good friend is still the person who Gives you the better of the two choices. Holds your hand when you’re scared. Helps you fight off those who try to take advantage of you. Thinks of you at times when you are not there. Reminds you of what you have forgotten. Helps you put the past behind you but understands when you need to hold on to it a little longer.Stays with you so that you have confidence. Goes out of their way to make time for you. Helps you clear up your mistakes. Helps you deal with pressure from others. Smiles for you when they are sad. Helps you become a better person.

However most importantly loves you!


Author Unknown

” Most important of all, I would love to travel all distance right from Kindergarten-hood till Now to have your friendship without missing any dimension of feelings and ever growing friendship. “ 

Author with true emotions –
Vinay


an affair

kita mungkin tak pernah memalingkan kepala kita secara jelas

pada siapa yang ada disana

namun kita tidak pernah tahu, dan siapa pun tidak pernah tahu

ketika hati kita berpaling tak kasat mata

degup jantung berdetak begitu cepat ketika menyodorkan buah simalakama

akankah kita membiarkannya begitu saja…atau mengikutinya dan kehilangan semuanya?

saya tidak pernah tahu kemana hatimu saat itu…saat ini,

dan saya pun tidak tahu kemana hati saya akan menghela lelah pada akhirnya

tapi

walaupun saya bukanlah ideal yang kamu impikan, saya yakin akan selalu kepada saya kamu akan berpulang.

Kado pernikahan yang sangat personal : Buku “Between Sisters”.

suatu hari di tahun 2003, entah siapa yang memulai, saya dan kakak saya, Pipit, berkiriman email.

Saat itu saya sedang BOSAN (b-o-s-a-n;capital) dengan Jogja, UGM, kuliah, ekstrakulikuler, kuliner dan pacar. Sementara kakak saya di Padang. Ya, seperti banyak orang lainnya, saya juga bertanya2, ngapain orang kaya dia pilih nerusin kuliah di Padang. Hidup dengan orang tua yang berasal dari Padang, dari kecil udah tau rasanya rendang serta selalu gagal untuk pandai berdagang, cukuplah membuat saya (ataupun dia, harusnya) hilang rasa penasaran dan menyerah dengan Padang. Sampai saat ini alasan kenapa dia nyangkut di kota itu  msh misteri buat saya.

Dan tampaknya saat itu warnet dan per-internet-an adalah satu-satunya mainan yang (masih) menyenangkan. Saking rajinnya saya ke warnet (Dhielovvi namanya, di depan kos2an) saya sampai pernah menang undian gratis ngenet 2 jam. Bukan karena saya pinter jawab kuisnya, tapi semata2 karena tampaknya cuma saya yang jawab. Semua orang ke warnet itu selalu punya rencana yang matang ttg apa yang akan mereka cari di internet dengan hitungan presisi waktu yang cermat, sementara saya…tidak.

Back to those emails, tanpa disadari, email-email itu berubah menjadi diary. saya sih sebenarnya tidak peduli akan  dibaca atau dibalas sama kakak saya. yang penting, hidup katarsis! *). –> dan mostly dibaca, dibalas, dengan cepat, dengan penuh antusias (kenapa saya bilang antusias? karena jawabannya panjang-panjang sekali…hanya orang yang antusias saja yg bisa menuliskan balasan email panjang-panjang seperti itu.

Beberapa hari setelah hari pernikahan saya yang lalu, kakak saya ini memberikan saya buku. Buku itu ternyata adalah kumpulan dari email-email kami di sepanjang tahun 2003. Buku itu adalah hasil kerja keroyokan karena diedit oleh suaminya -Irsyad-, gambar dan ilustrasinya dikerjakan oleh kakak saya yang satu lagi -Mbe- dan anaknya -Kaleev. Selain kado satu paket lingerie & buku ttg seks (dr teman dekat yg tau benar bahwa saya tidak pakar dibidang ini), rice cooker, blender, mukena dan seribu seprai, tentu saja yang ini sangat personal.

Saya tertawa bacanya. Betapa culun, sok tuwa, alay dan galau-nya email-email saya saat itu. Tapi banyak hal dari tulisan-tulisan email kakak saya yg ternyata bikin saya agak lebih pinter dan terbuka melihat segala sesuatu di kemudian hari. Saya rasa, tidak banyak orang bisa punya kesempatan untuk selalu menyadari tiap proses kedewasaan seperti saya, sambil ditemani seperti ini. Dan itu membuat saya merasa istimewa di dalam keluarga. Mungkin inilah yang menjawab mengapa saya selalu merasa sayang sama keluarga, walau saya tahu benar bahwa keluarga saya amat sangat disfungsional. Karena buat saya, keluarga saya istimewa.

Istimewa itu tidak harus sempurna, ya kan?

cinta dalam sepotong roti seret.

Kali ini saya harus menerima lapang dada lirik-lirik cinta unyu unyu itu yang berkata bahwa “tidak ada satu kata pun di dunia yang bisa menerjemahkan rasa yang saya rasakan bersamanya dan juga tidak ada satu kata pun yang bisa merepresentasikan alasan-alasan saya mencintainya”.

Kamis, 29 Juli 2010 adalah 9 tahun kami berpacaran.

Waktu yang terlalu cepat untuk menyimpulkan mengapa kami saling mencintai.

Bertahun-tahun kami percaya kami tidak cocok satu sama lain.

Bertahun-tahun itu pula kami percaya bahwa kami tidak berjodoh.

Setiap kali ada pertanyaan bahwa, “apakah kamu yakin dia adalah pasangan yang tepat?”,

Tidak pernah kami menjawab tanpa adanya koma, dengan titik di awal kalimat atau gumaman “ummm…”.

Buat saya, dia itu selalu kurang factor x,

Buat dia, saya itu manusia yang terlalu banyak factor x.

Tapi kami menikah.

Dan tahukah anda hal apa yang membuat kami serta merta berada di depan penghulu di hari Selasa yang cerah tanggal sebelas januari dua ribu sebelas itu?

Hanya karena saya ingin ikut dia ke Bangkok, saya mau jalan-jalan.

Dan dia juga ingin saya menemani dia ke Bangkok, karena saya lebih cepat baca peta.

Saya rasa, sudah waktunya saya berbaik-baik dengan Tuhan.  Mereka yang merasa berjodoh dan ditakdirkan Tuhan bersama saja, kerap kali hilang kesabaran menghadapi konflik, apalagi kami. Kalau selama ini saya berdoa seperti minum obat 3x sehari, mungkin sudah saatnya saya berdoa lebih banyak, 5 kali sehari, tujuh belas rakaat. (iya saya tahu, saya sedang berusaha me-lobby Tuhan, ya…tidak apalah).

Cinta saya ini mungkin cinta dalam sepotong roti seret di warung kantin kantor SHARP. Buat orang yang susah bangun pagi kaya saya, seseret apapun, roti itulah yg menyelamatkan perut saya di pagi hari. Dia ngga sempurna, tapi penting.

i want to survive in M project (#1)

saya memang tidak pernah mencoba bertanya.
Apalagi berkeinginan menjawab.
Terkadang, berdiam adalah bentuk komunikasi yang tepat. Setidaknya itu membuat saya, dan berharap dia, berlatih berbicara dengan hati, mendengar dengan kalbu.

(iya saya lagi kesal, dan kami sedang bertengkar).

its 9 oclock already, and i hear this song after you.

you see the patterns in the sky

those constellations look like you and i

that tiny planet in a bigger guy

i dont know wether i should laugh or cry

….

dont know the answer or the reason why

we’ll stick together till the day we die.

(my funny friend and me-Sting)

aku ingin menggaruk tapi aku tergaruk

[dan tulisan ini sgt tidak berkorelasi dgn judulnya]

ini seperti gatal yang tidak boleh digaruk.
seperti duduk berhadapan dgn segelas es teh botol sementara anda sedang berpuasa.
seperti dua potong tiramisu a la suis butcher di depan treadmill namun terperangkap program harus langsing dalam 3 bulan.
seperti tidak sengaja duduk di samping lelaki yang sedang ditaksir berbulan-bulan, namun ragu apa dia masih mengenal anda, atau benar pernah mengenal anda.
seperti bilang “ya” padahal inginnya “tidak”.
seperti anda ingin mengatakan sesuatu hal yg penting namun orang yg anda ajak bicara terlanjur pergi.

seperti ada yg salah dan anda ingin sekali mengubahnya menjadi benar.
tapi anda tercekat. atau berhenti.

seperti, anda menyadari ada suatu sistem yang aneh, yg rancu, yg mengganjal, yang salah, yang tidak sesuai, anda ingin mengubahnya tapi terbentur oleh rangkaian kata seolah bijak berlantun: “dila, prosedur untuk mengubahnya sangat panjang dan lama karena harus ijin ini ijin itu, di-approve si ini, di-approve si-itu, jd biarkan saja seperti itu”.

bunyi “skak mat!” membuat anda kaget. lalu menghela napas panjang.

anda mengurungkan diri untuk mengubahnya. bahkan mengurungkan diri walau hanya untuk “berniat” mengubahnya.

dan ini adalah saya. yang masih sulit survive di jaman “kalo saya bisa ini, emang situ berani bayar berapa?”. ini adalah saya si pahlawan kesiangan.

[ngga ngerti? ya ngga apa-apa. wong lagi katarsis kok, terima kasih sudah mendengarkan].

1 September 2009

at war, no one realy wins

tadi pagi saya tidak sengaja liat poto punya temen. poto yang menang Pulitzer. bener-bener bikin saya ngerasa waktu berenti, ngga cuma sekejap. tapi cukup lama.
ngga tau deh, rasanya seperti…argh, susah banget nemu katanya.
yang jelas, rasanya tidak enak.

saya penasaran, lalu saya buka situs asal poto itu. sialnya, saya malah terperangkap pada kumpulan poto-poto Pulitzer lainnya. kali ini tidak hanya satu poto yang bikin saya terhenyak. tapi banyak. beberapa dari yang banyak itu adalah dua ini.

Ya, i know. saya sudah sering liat drama kehidupan dari mana pun tentang humanity tragedy seperti di poto-poto itu. bahkan hampir terasa imun. tapi…ya, begitu.

kita denger. kita tahu. lalu kita berkata “oooh…”. [ooh...gempa lagi ya, oooh...perang lagi ya...oooohh, ada pembunuhan lagi ya? ooohh...n my live goes on, cos as u see here, i have to feed my own kids, sista'].

dulu dosen saya bilang “we are indonesian, we live with such a learned helplessness addiction, what can you do with tht, Dila? tell me, u are one of psycholigist-to be”.

saat itu saya jawab, dgn jawaban yg masih sama sampai hari ini, saya ngga bisa ngapa2in sama humanity tragedy. saat ini saya bahkan masih memilih pindah channel infotainment dibanding liat berita bencana.

tapi, ya. ditulisan ini. saya cuma pengen bilang, angkat topi buat para fotografer2 yg berdedikasi ini. mereka rela hidup diantara dilema, depresi di antara ironi. melihat tragedi itu, memotonya dan menjadi pemenang. menjadi pemenang di atas suatu kejadian yang mungkin tidak mereka inginkan terjadi di muka bumi. dan mungkin mereka berharap bisa berbuat sesuatu lebih dibanding hanya dengan mengambil gambar.

saya ngomong apa? ngga tau. saya cuma ingin katarsis kok (dan sedang dibumbui oleh hormon menstruasi). terima kasih sudah mendengarkan.

merasakan yang sama?

www.pulitzer.org/bycat/Feature-Photography

8 September 2009

sudah benarkah kita memilih presiden? dan sudah benarkah presiden memilih mendagri?

Ada beberapa hal yang aneh dalam hubungan pemerintah dan industri keramik.

saya mencoba menilai dengan kacamata saya sebagai orang awam.

Industri keramik sudah memberikan pendapatan negara sebesar 15T per tahun namun hingga saat ini masih dilabeli sunset industry, yang mana blm dianggap besar dan berakibat terbatasnya jumlah kucuran pinjaman modal. Padahal, baik untuk industri kelas kecil, menengah dan besar, pinjaman modal adalah penggerak perkembangan industri.

Pasokan gas merupakan hal yang sangat vital untuk industri keramik. sama halnya dengan ibu rumah tangga yang perlu gas untuk memasak. tapi, hingga saat ini Perusahaan Gas Negara, sebagai satu-satunya pemegang hak atas gas (baca:monopoli), masih memberlakukan transaksi penjualan dalam Dollar, yang kita tahu sangat fluktuatif dan tidak efektif. Ironis, industri membeli gas dengan dollar padahal pendapatan yang masuk ke industri dihitung dalam rupiah (sejak krisis global amerika, pasar lokallah yang membuat industri ini tetap bertahan berproduksi).

tahun 2007, cadangan bahan baku keramik semakin menipis. salah satu penyebabnya adalah kebijakan pemerintah yang besar-besaran menjual bahan baku justru untuk negara lain. Pada akhirnya, banyak industri dalam negeri yang terpaksa membeli bahan baku ke luar dengan hitungan budget yang lebih besar.

Ini adalah hari terakhir di tahun 2009.

Saya membaca surat penolakan dari PGN untuk pengajuan penambahan kuota gas untuk pabrik keramik.

Bagi sebuah pabrik keramik, penambahan kuota gas merupakan geliat yang menggembirakan. ini adalah kabar paling menggembirakan sepanjang 2009, yang artinya ada penambahan produktivitas. walaupun harus membayar dengan dollar dan walaupun harus membayar dengan harga yang lebih tinggi dari sebelumnya, demi meningkatnya kegiatan produksi, pasti pasrah bersedia membeli gas.

dan ini dijawab oleh PGN dengan gelengan kepala. kabar yang beredar, alasan penolakan tersebut adalah karena saat ini gas sedang dialokasikan untuk proyek listrik sekian ribu watt tahun 2010. dan pembatasan penggunaan gas berlaku untuk semua pabrik, bidang apa pun, jenis apa pun, kelas apa pun.

sungguh surat penolakan yang tidak lucu, dan sungguh alasan yang membuat orang hilang suara.

buat saya, masalah di atas sudah cukup klise. keluhan-keluhan yang sama juga terdengar tidak hanya spesifik dari bisnis keramik, tapi juga dari industri lokal jenis lain. kurang bahan baku, kurang modal dan kurang dukungan dari pemerintah.

saya bekerja di dunia HRD. saya tidak terlalu paham tentang industri, produksi, bisnis ataupun politik. tapi yang saya lihat, banyak manusia2 potensial yang menjadi demotivasi dan tidak mampu mengaktualkan kemampuan sesuangguhnya dengan optimal karena tidak terfasilitasi oleh lingkungan kerja ataupun geliat bisnis yang menggairahkan. Biaya people development dan biaya human resource lainnya dipangkas karena untuk membiaya aspek lain yang lebih penting.

loh, pak..
katanya kita harus mengembangkan SDM yang berkualitas?
katanya kita harus menekan jumlah pengangguran?
katanya kita harus menumbuhkan geliat bisnis sektor dalam negeri?
katanya kita harus bersaing dengan negara lain?
katanya kita…harus….mencoblos biru agar negara lebih baik…
katanya kita…pasti bisa.

tapi kenapa yang saya lihat di tv anda hanya muncul dengan jawaban penjelasan tentang “im a victim of something” di setiap isu.
(ketika ada ribut2 teroris, anda bilang anda juga jadi target teroris. ketika ada ribut2 century dan buku gurita dari cikeas, anda bilang anda adalah korban fitnah). saya rasa, masalah negara tidak bisa dijawab dengan sebatas jawaban seperti di-script sinetron. dan ini juga bukan realty shows.

haruskah kita menyerah dan membiarkan orang asing dengan dollarnya kembali merajai tiap jengkal bisnis indonesia jika pebisnis lokal tidak sanggup mencari nafkah di negaranya sendiri?*

__________________________

*) sekedar informasi, industri keramik adalah salah satu industri yang masih dipegang oleh penggiat lokal. oleh indonesia sendiri dan belum banyak dikuasai oleh asing.

RnT KIA, 31 Desember 2009

Tentang Upacara Hari Ini (catatan 17 Agustus)

Dear all,
Hereby we inform you schedule for ceremonial Independence day
Friday, August 6, 2010. 4pm.

Gw baca email itu tadi pagi sampai 5 kali.

Ini maksudnya apa ya?
Upacara gitu? Beneran?

Pertama, Indonesia tidak pernah dalam sejarah memerdekakan dirinya pada tanggal 6 Agustus, yang gw tau itu tanggal Jepang dibom atom.

Kedua, upacara? Iya iya gw tau, gw kerja emang pake seragam, tapi yang jelas ini bukan seragam pegawai Pemda, apalagi seragam sekolah anak TK.

Tapi, ini serius ternyata.

Ngga berapa lama setelah itu, sayup-sayup kedengeran ada sekitar 10 orang menghampiri ruangan yang sedang gw pakai interview. Salah satu yang mukanya udah senior berkata ke gua:

“Jam 10 nanti pinjem ruangannya ya mbak, mao latihan nyanyi buat ntar sore.”
Gw hening seketika,
“jangan-jangan…bener gw pegawai Pemda, gw aja yang selama ini berhalusinasi sebagai pegawai kantor swasta”.

Belum dijawab, mereka sudah tergopoh2 pergi.
Ada yang bawa CD, microphone dan membawa satu paket muka berlukiskan semangat pejuang ’45 [maksud gw, saking seniornya ada yang mukanya mirip jendral sudirman, bedanya yang ini ngga pake blankon].

Ya, ini serius.

Jam 2 siang, orang udah pada sibuk pasang audio di depan gedung. Sekaligus panggung kecil dengan backdrop bertuliskan besar “64th Independence day”, tidak lupa mereka juga menyusun beberapa piala dengan sangat teratur, dari yang supergede segede menara Eiffel sampe yang kecil-sekecil gantungan kunci menara Eiffel.

Sementara tidak jauh dari situ, tersebutlah satu koloni ruangan HRD yg lagi sibuk dengan urusan masing2.

Bos : Mendung ya?
Teman gw : iya pak, katanya di luar mendung
Bos & gw : Alhamdulillah…
Bos : semoga ujan gede, petir menyambar riuh rendah. Saya bingung kenapa harus ada upacara agustusan kaya gini, selama kerja di 5 perusahaan baru kali ini yang ada upacaranya…
Teman gw : kan buat memperingati dan merayakan hari kemerdekaan pak
Bos : emangnya kita merdeka dari siapa?
Gw : …. [masih sibuk ngetik laporan]
Teman gw : ya penjajah dong pak
Bos : Penjajahnya siapa?
Gw : Jepang kayanya [ngomong sambil lalu, jawab asal njeplak]
Bos : liat ini di rundown acara, siapa yang ntar kasih pidato protokoler
Gw : Hashimoto-san, pak [menyebutkan salah satu Director - which is, by his name, u easily know tht he is Japanese]
Bos & Gw : *nyengir*
Gw : ya, ini namanya tragedi pak.

Bos : udah, taon besok diapusin aja ini.

[ternyata acara ini adalah ulah SPSI]
_ _ _

Jam 4 kurang 10, mulai terdengar announcement untuk segera turun dan berkumpul di depan gedung.

Ya ini serius.

Gw, setelah berpuluh-puluh tahun, akhirnya kembali menundukkan kepala sementara 10 orang yg tadi pinjem ruangan udah di depan sana menyanyikan lagu mengheningkan cipta.
Juga setelah itu menghormat kepada bendera menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang mana tidak ada kerekan bendera, karena benderanya emang udah kadung ada di atas.
(sumpah, kalo sampe ada kerekan bendera segala, gw pasti udah daftar jadi pembawa benderanya!biar pake baju putih-putih, topi item, kaos kaki selutut dan sarung tangan putih *sewot*)

Di akhir acara, dibacakan pemenang lomba ini-itu khas tujuhbelasan. sebutin dah, semua ada. dari tarik tambang, catur, marathon sampe karaoke.
Khas banget, semua piala diserahkan oleh para expat Jepang di atas panggung.
[oh Tuhan, jgn2 bener, dulu kemerdekaan kita adalah pemberian, bukan hasil perjuangan, sungguh simbolisasi yang manis].

Selaen itu juga ada pemberian penghargaan untuk karyawan terbaik dan karyawan terlama.

MC: “saya panggilkan kepada Bapak Was dari divisi Produksi untuk maju sebagai karyawan dengan tahun pengabdian terlama, perlu diketahui beliau bergabung bersama kita sejak tahun 1973″.

Temen gw: “Dil, elu tadi nanya kan, emang udah tiap taun acara ini diadain? nah mending lu tanya ama si Pak Was, dari taun berapa tepatnya, dia tuh saksi sejarah paling valid”.

Gw : “ya, udah lah…udah ngga penting juga, taon besok udah ngga ada kok” [sambil ngebersihin kacamata yang mulai kena rintik-rintik ujan].

its weird, but its fun.

-gw bahkan sempet poto2 di barisan belakang tanpa harus takut disetrap sama pak guru karena tidak mengikuti upacara dengan khidmat-

Siaaaaaaaaap grakkk! Balik kanan, bubaaaaaaaaaaaar, jalan!
[Pak Satpam yang berdiri di depan pun berteriak lantang membubarkan barisan upacara].

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.